Menunggu setan lewat adalah salah satu judul tulisan Gusdur yang terbit di Tempo pada tahun 1984. Pada paragraf pertama, Gusdur mengisahkan perdebatan 3 penumpang mobil Corolla DX mengenai ketaatan pengendara pada lampu merah.
Poin yang ingin disampaikan Gusdur dalam tulisan tersebut mengenai fungsi peraturan perundang-undangan yang dapat saja berubah-ubah sesuai konteks yang mengitarinya.
Dalam konteks analisis wacana kritis (critical discourse analysis), perhatian saya lebih mengarah kepada pilihan Gusdur dalam menentukan diksi pada judul tulisan. Gusdur memilih judul menunggu setan lewat. Padahal, bisa saja Ia memilih judul misalnya inkonsistensi penegakan hukum, efektivitas penerapan hukum dan sebagainya. Tetapi itu tak dilakukan.
Gusdur seperti menghindar dari formalisme. Sebuah gaya kepenulisan konservatif khas akademisi pada zamannya. Mereka umumnya sarjana lulusan perguruan tinggi Eropa seperti Leiden di Belanda atau pun Sorbone di Prancis. Walaupun amatan saya, dalam beberapa paragraf, Gusdur tak bisa menghindar dari frasa-frasa khas dalam literasi ilmu hukum yang denotatif dan mutlak menghendaki tafsir tunggal.
Kritik Gusdur sebetulnya menohok ke jantung persoalan penegakan hukum yang dikaitkan dengan partisipasi warga. Partisipasi warga dalam arti kesadaran untuk menundukkan diri pada ‘benda’ yang secara semiotik disebut lampu merah. Kepiawaian Gusdur nampak dari keberaniannya mengubah nuansa tulisan yang sebenarnya pedas menjadi jenaka.
Pada masa Gusdur ini dikenal pula seorang kolumnis bernama Mahbub Junaidi. Ia kondang sebagai penulis brilian setelah kolom asal usul di Kompas dan kolom demi kolom di Tempo berhasil menyita perhatian publik. Tulisannya tak asal pedas tapi dikemas dalam satir-satir lucu dan jenaka.
Bahkan menurut HB Jassin, Mahbub Junaidi ini memiliki orisinalitas gaya dalam menulis yang tercipta oleh lingkungannya sebagai wartawan, bukan sesuatu yang dicari-cari.
Di era kontemporer, Gunawan Muhammad tampil sebagai figur penulis misterius. Berbeda dengan Mahbub yang punya ciri tulisan lugas dan menghindari diksi-diksi bersayap, GM nampak ingin mencitrakan diri sebagai penulis berkelas dan tak ingin mudah dimengerti. Persis gaya tulisan para filsuf posmodern semacam Derrida, Lacan hingga Edward W. Said.
Pasca era Gunawan Muhammad, semakin kesini perubahan gaya kritik dalam tulisan menjadi semakin sukar diidentifikasi genre-nya. Kultur kritisisme yang dibangun para penulis zaman dulu seperti gayung tak bersambut. Salah satu penyebab, kritikus era sekarang lebih tertarik pada akibat dari peristiwa dan enggan menggali sebab-sebabnya secara mendalam.
Padahal implikasinya tidak ringan. Misal, dalam ilmu tauhid, ketika seorang muslim mengabaikan penyebab maka bisa mengakibatkan kekufuran. Satu misal lagi, pasca Covid-19 daerah-daerah bersaing untuk segera meraih pertumbuhan ekonomi. Salah satu pilihannya sektor UMKM yang dipacu agar mendongkrak pendapatan warga.
Tetapi pertumbuhan UMKM (baca: PKL) seperti di jalan Diponegoro kemudian menimbulkan dampak ikutan yang tak bisa dihindari. Seperti kerumitan pengaturan pemanfaatan jalan umum untuk PKL dan persoalan parkir para pembeli yang membawa kendaraan pribadi.
Dari satu sisi kita ingin UMKM tumbuh berkembang dengan pesat, tetapi dari sisi lain kita berhadapan dengan realitas persoalan yang menghadang di depan mata seperti kesemrawutan pengelolaan parkir dan kemacetan lalu lintas.
Seorang pengamat bijak, tentu tidak akan mengasumsikan kesemrawutan dan kemacetan itu sebagai faktor tunggal yang berdiri sendiri. Sebab, ketika pilihannya pelarangan kendaraan pribadi berhenti di sepanjang jalan Diponegoro pada malam hari, maka secara tidak langsung kitalah yang menghentikan nafas para PKL. Kita pula yang membatalkan pertumbuhan ekonomi dan PAD pun akan menurun.
Saya pikir dalam mengkritik kita butuh kejenakaan model Gusdur atau Mahbub Junaidi. Kita juga perlu kemisteriusan ala Gunawan Muhammad sehingga tulisan akan sulit “ditelanjangi”. Konon, kejenakaan melambangkan kecerdasan dan kematangan. Jadi, walaupun kritik sepedas cabe sekarung, namun akan tetap berasa susu soda yang menggoda.




