
Dalam lanskap bahasa tutur Madura, istilah berkah menjadi kosa kata istimewa. Berkah berarti membawa manfaat, mengakibatkan kecukupan dan mendekatkan kepada kebaikan.
Ketika perilaku seorang manusia membawa manfaat bagi sesamanya, maka ia disebut pembawa berkah.
Ketika gaji dan penghasilan yang terbilang pas-pasan tapi mencukupi kebutuhan dan tak cepat habis, maka disebut gaji yang membawa berkah.
Rupanya, filosofi berkah itu pula yang menginspirasi Bupati Ahmad Fauzi Wongsojudo. Sejak memimpin, Bupati Fauzi dikenal suka memakai blangkon.
Bukan hanya saat berkunjung menemui masyarakat atau memimpin rapat. Tapi saat santai pun blangkon dikenakan.
Orang (mungkin) terheran. Mengapa blangkon? Mengapa bukan peci atau sorban?
Mengapa Bupati Fauzi memilih blangkon sebagai sikap kebudayaannya. Pilihan keberpihakan yang membedakannya dari kebanyakan Bupati lain di Indonesia yang lebih cenderung pada kopiah atau peci.
Begitu juga pemakaian sorban dihindarinya. Padahal, dalam tradisi ketimuran, sorban acapkali diasosiasikan sebagai simbol kesalehan dan ketebalan iman.
Dalam momen-momen penting, berkali-kali Bupati Fauzi mengafirmasi keteguhan sikap kebudayaannya itu. Seperti saat menerima penghargaan UHC Award 2024, lagi-lagi blangkon yang dipilih bukan peci.
Kita tahu, peci atau kopiah yang dipakai para pejabat dalam acara-acara formal kenegaraan itu, umumnya diproduksi di Gresik. Begitu juga dengan sorban.
Sementara blangkon yang dipakai Bupati Fauzi berasal dari sebuah desa terpencil di wilayah Kecamatan Rubaru, Banasare.
Desa Banasare dikenal sebagai sentra pengrajin blangkon lokal Sumenep. Proses pembuatannya 100 persen handmade dan pemasarannya pun terbilang konvensional.
Bupati Fauzi menyadari untuk mengangkat derajat hidup para pelaku usaha kecil kerakyatan niscaya memerlukan sentuhan kebijakan dan formulasi regulasi.
Bupati Fauzi berkeyakinan dengan kebijakan yang berpihak para pelaku UMKM akan berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Terlebih dalam perkembangannya, para pelaku UMKM merupakan satu-satunya sektor perekonomian kerakyatan yang paling menakjubkan.
Hanya pelaku UMKM yang mampu bertahan hidup, disaat sektor-sektor lain babak belur dihantam wabah corona di seantero nusantara.
Jadi rasional jika Bupati Fauzi menjadikan blangkon sebagai ikon. Bukan hanya bagi dirinya. Setiap aparatur pada hari Jumat wajib memakai Blangkon.
Blankon akhirnya menjadi trademark Sumenep yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia hingga mancanegara. Hingga momen bersejarah saat Presiden memakai blangkon dalam peresmian Bandara Trunojoyo.
Bupati Fauzi membuat kebijakan yang membumi. Kebijakan pro kerakyatan yang akan membuka sekat-sekat ketimpangan. Pun sumbangsih terbesarnya menjadikan blangkon sebagai simbol eksistensial pelestarian kebudayaan.
