Perum Tembakau

Dulu, orang bilang tembakau seperti daun emas. Petani di madura saat itu sempat mengecap manisnya harga hingga bertahun-tahun lamanya.

Tetapi saat ini keadaan telah berubah. Para petani di 4 Kabupaten di Madura enggan menanami sawahnya dengan tembakau.

Memang tragis. Beberapa tahun belakangan harga komoditas andalan madura itu jumpalitan tak tentu arah, alias sering terjun bebas dan tak pernah naik. Para petani frustasi. Alhasil kejayaan tembakau madura tinggal cerita.

Mungkin betul jika ada adagium: tak ada yang abadi selain perubahan. Terkecuali nasib petani yang memang tak kunjung berubah. 

Padahal, seperti disampaikan para sesepuh, tembakau dan madura seperti dua sisi mata uang. Tak bisa dipisahkan. Tembakau sejatinya merupakan kepercayaan diri para petani madura. 

Tak ada pilihan lain, negara harus hadir. 

Jika selama ini masyarakat madura hanya mengenal Perum Garam, maka sudah saatnya mengenalkan Perum Tembakau. 

Perum Tembakau yang mendampingi petani. Mereka yang akan mengedukasi untuk perbaikan kualitas tembakau. Termasuk yang paling esensial menjaga stabilitas harga tembakau.

Perum Tembakau juga yang membeli tembakau dari petani. Sementara pabrikan besar seperti Gudang Garam, Djarum dan Sampoerna membeli dari Perum. 

Efek domino yang pasti adalah perlindungan dan pemberdayaan petani madura. Sehingga tak ada lagi kisah permainan harga secara ugal-ugalan oleh pabrikan.  

Industri tembakau madura lambat laun akan kembali bergairah. Petani madura akan kembali pada khittohnya.

Daerah atau pemerintah kabupaten tidak perlu khawatir. Jika punya cukup dana, pemkab di Madura bisa ikut penyertaan modal dengan membentuk Perumda tembakau. 

Saya pikir pembentukan perum tembakau layak dipertimbangkan. Perum ini sebagai simbol kehadiran negara di Madura. Jika bukan negara yang hadir, maka siapa lagi yang akan mengangkat derajat para petani? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *